Rabu, 04 Desember 2013

KESEHATAN : Penting untuk Pengasuh, Ini Dia Pertolongan Pertama Saat Anak Sakit


Jakarta, Ketika ayah dan ibu bekerja, pastinya si kecil akan di rumah bersama pengasuhnya. Segala sesuatu pun bisa saja terjadi misalnya anak terjatuh, diare, atau kejang-kejang. Oleh karena itu, memberi pengetahuan pada pengasuh pun perlu dilakukan orang tua.

Dalam bukunya yang berjudul 'Don't Worry to be a Mommy!', ibu satu anak bernama Meta Hanindita mengatakan ada beberapa pertolongan pertama yang perlu diajarkan pada pengasuh. Selain itu, perlu juga membuat tas emergency bagi anak yang berisi perkakas untuk pertolongan pertama jika anak terluka atau sakit.

"Antara lain obat-obatan lengkap dengan dosis pemakaianannya, termometer, kasa steril dan plester, serta nomor telepon orang tua, saudara, atau tetangga terdekat yang bisa dihubungi untuk mendapatkan bantuan," kata Meta dalam bukunya seperti dikutip detikHealth, Kamis (5/12/2013).

Selain itu, beriah informasi pada pengasuh tentang pertolongan pertama yang bisa ia berikan ketika anak tiba-tiba sakit atau terluka:

Kejang
1. Pindahkan anak ke tempat yang aman dan jauh dari benda bebahaya.
2. Miringkan kepala anak ke kiri atau kanan agar mencegah anak tersedak.
3. Longgarkan baju yang dipakai supaya anak tidak sesak napas
4. Tidak perlu memasukkan barang apapun termasuk sendok, kapas, minum, bahkan obat-obatan.
5. Jika kejang berlangsung lama, anak terlihat membiru, segera bawa ke UGD

Luka bakar
1. Bilas area luka dengan air yang mengalir, bukan dengan es atau air es. Ini membantu mengurangi rasa sakit dan bekas luka
2. Jangan mengoleskan pasta gigi, mentega, atau apapun yang justru bisa menimbulkan infeksi.
3. Bila luka bakar menyebabkan kulit melepuh, jangan dikelupas
4. Berikan ibuprofen untuk obat anti nyeri

Gigitan binatang
1. Bilas luka gigitan dengan air dan sabun. Jika berdarah, tutup dan tekan dengan kasa steril dan plester
2. Setelah pendarahan berhenti, bisa dioleskan salep antibiotik
3. Untuk penahan nyeri bisa diberi ibuprofen

Terjatuh
1. Perhatikan dalam posisi apa anak terjatuh dan dari ketinggian berapa
2. Kalau anak sadar dan menangis, periksalah apakah ada memear atau lebam di bagian tubuhnya. Jika ada, bisa dikompres untuk mengurangsi rasa sakitnya.
3. Bila tidak sadar atau muntah, segera bawa ke rumah sakit.

Diare
1. Perhatikan warna kotoran, ada lendir atau tidak
2. Segera berikan pedialit (minuman isotonik untuk bayi) setiap diare dan perbanyak minum cairan
3. Jika kencing berkurang, mata mulai cekung, segera bawa ke dokter.


(up/up)

sumber : detik.com

kampus : Sarjana Ekonomi Bisa Percepat Laju Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi. (Foto: Reuters)
MAKASSAR - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali meyudisium 83 mahasiswanya.

Sekretaris Jurusan Manajemen Syamsul Risal mengatakan, 83 mahasiswa yang mengikuti yudisium kali terdiri tiga program studi, yakni Manajemen 31 orang, Akuntansi 51 orang, dan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) satu orang.

Selanjutnya, Ketua Jurusan IESP H. Sanusi A.M menjelaskan, para mahasiswa yang diyudisium hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat tahun menyelesaikan studinya. Nilai Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) rata-rata setiap alumni 3,51. Sedangkan IPK tertinggi diraih oleh Nurul Atira mahasiswa manajemen dengan IPK 3,66 dan mendapat predikat sangat memuaskan.

Proses yudisium yang diselenggarakan di Lantai 8, Gedung Al-Iqra, Kampus Unismuh Makassar, Rabu (4/12/2013) ini dihadiri Wakil Dekan (WD) I H. Sultan Sarda. Dia mengemukakan, kegiatan ini adalah akhir dari rangkaian akademik tingkat strata satu.

"Sarjana Ekonomi bisa mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional mengikuti standar internasional yakni USD5.000 sebagai pendapatan per kapita dan tidak menambah pengangguran di Indonesia," ujar Sultan.

Menurut Sultan, alumni ekonomi secara teori tidak ada yang bisa menganggur karena mereka telah beberapa aspek kehidupan, mulai dunia bisnis, laporan keuangan, manajemen risiko, manajemen sumber daya manusia, dan strategi manajemen.

Sultan mengingatkan kepada peserta yudisium, sarjana ekonomi khususnya dalam menentukan pekerjaan harus sesuai dengan bidang ilmunya secara profesional dan mempunyai daya saing secara kompetitif. Tak lupa pula, peserta yudisium diimbaunya agar menguasai teknologi informasi sebagai faktor menentukan kesuksesan setiap alumni. (ade) 

sumber : okezone.com

seputar kita : Kapok Mengemis, Walang 'Pengemis Rp25 Juta' Pilih Jual Ternak


 detail beritaSUBANG - Dua hari setelah berada di kampung halamannya di Kampung Waladin, Desa Pasir Bungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Walang bin Kilon semakin yakin untuk membuka usaha sendiri.


Pada Kamis (5/12/2013) pagi, ia pergi ke Pasar Purwadadi untuk menyurvei harga hewan ternak. Uang Rp25 juta yang dimilikinya akan dijadikan modal untuk berjualan ternak. Meski dua tangannya cacat, bukan halangan baginya untuk berangkat ke pasar mengendarai sepeda motor.

Keseriusannya ingin memulai usaha berjualan hewan ternak sudah ditunjukkan sehari setelah dibebaskan dari panti dinas sosial di Cipayung, Jakarta Timur. Kemarin, ia pergi ke Pamanukan juga untuk menyurvei dan mencari hewan ternak.

Walang mengaku kapok mengemis di Jakarta setelah tertangkap petugas dinas kesehatan bersama uang Rp25.448.600 yang dibawa bersama rekannnya, Sa’aran.

Ia berbagi tugas dengan Sa’aran yang berpura-pura sebagai orang sakit yang membutuhkan biaya pengobatan. Sambil mendorong gerobak yang dinaiki Sa’aran, Walang memohon belas kasih warga agar diberi uang. Dalam 15 hari, ia mengaku dapat mengumpulkan uang Rp4 juta. Sementara sebagain besar dari uang Rp25 juta itu diakuinya didapat dari hasil bisnis jual sapi di kampungnya.

 sumber : okezone.com

Senin, 02 Desember 2013

PENDIDIKAN : Bali Jadi Referensi Pendidikan Nasional

Mendikbud Mohammad Nuh. (Foto: Runi Sari/Okezone)
BALI - Setiap tahun, Provinsi Bali selalu menempatkan diri sebagai daerah dengan perolehan nilai bagus dalam ujian nasional (UN). Bali kerap menduduki posisi puncak peraih nilai UN tertinggi. Bahkan, para siswa Bali juga masuk 10 besar siswa peraih nilai UN tinggi.

Prestasi Bali ini pun membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh bangga. Dalam acara peluncuran try out UN online di SMAN 4 Denpasar, Bali, Nuh menyampaikan apresiasinya atas prestasi Bali.

"Saya sangat bangga dan berharap Bali bisa menjadi model referensi dan rujukan sekolah lain di Indonesia," kata Nuh, di SMAN 4 Denpasar, Bali, Selasa (26/11/2013).

Mantan menteri komunikasi dan informatika (menkominfo) itu mengimbuhkan, dari hasil analisis UN terlihat, Bali mendominasi 10 besar pada semua aspek. Meski begitu, dia juga mengingatkan bahwagap antarkabupaten/kota di Bali dalam aspek nilai UN tertinggi dan terendah cukup besar.

"Karena itu, tugas provinsi lah untuk mengurangi gap tersebut, tentu saja dibantu kabupaten/kota," imbuhnya. (ade) 

sumber : okezone.com

PENDIDIKAN : Duh, 40 Ribu Anak TKI Tak Tahu Lagu Indonesia Raya

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)
BALIKPAPAN - Diperkirakan sekira 40 ribu anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia tidak mendapat hak pendidikan secara layak. Mereka merupakan anak-anak TKI yang orangtuanya merupakan buruh di perkebunan sawit di Sabah, Serawak, Malaysia.

Alasan ilegal atas keberadaan mereka pun menjadi "tumbal" mengapa mereka belum dapat menikmati pendidikan sebagaimana lazimnya.

"Pada 2005, yang kita ketahui ada belasan ribu, itu yang ketahuan. Dari jumlah itu yang belajar sedikit hanya di learning center, itu pun hanya bisa baca tulis saja. Pakai bahasa Melayu, enggak tahu Indonesia Raya, enggak kenal Jakarta dan enggak kenal Presiden SBY. Update terakhir di Konjen RI di Kinabalu, jumlah berkembang sekira 40 ribuan anak-anak," kata Praktisi Pendidikan Bambang Irianto, yang aktif di Sampoerna Foundation School Development Outreach, saat media briefing, di Balikpapan, Kamis (14/11/2013).

Hal ini sangat memprihatinkan karena orangtua mereka bekerja di perkebunan di Malaysia itu awalnya adalah seorang pekerja. Kondisi lambat laun berkembang, serta lama tidak pulang ke Indonesia, mereka pun menikah dan memiliki keluarga. Sehingga akhirnya beranak pinak dan membentuk suatu kelompok besar.

"Keberadaan mereka dianggap ilegal dan menyalahi kontrak sehingga akses bagi sarana pendidikan ya sangat terbatas. Di sana ada Humana Bornea seperti learning center yang didirikan oleh orang asing," katanya.

Pemerintah, tambah Bambang, sudah melakukan diplomasi terkait keberadaan orang-orang Indonesia di perkebunan sawit di Malaysia. Menurut dia, seharusnya kedua negara bersama-sama ikut menanggung persoalan pendidikan anak-anak. Walaupun Malaysia ngotot menilai keberadaan anak-anak Indonesia adalah ilegal.

"Paling bagus menggunakan jalur diplomatik. Memang mereka keukeuh bahwa mereka menyalahi kontrak dan ilegal. Tapi faktanya ada banyak anak Indonesia yang tidak bisa baca tulis. Ini jadi beban Indonesia yang harus dituntaskan. Mereka (Malaysia) keukeuh pada aturan dan TKI kita juga nakal, mereka kan masuk ke sana lewat cara yang enggak benar juga. Jadi kompleksnya masalah," ucapnya.

Dia pun menyadari jika pihaknya menyambangi anak-anak TKI di Negeri Jiran dan mendirikan sekolah di sana, karena memang bukan wilayah yang dimiliki Indonesia. Sehingga hal yang paling memungkinkan adalah mendirikan pusat pembelajaran dan latihan di kantong-kantong TKI.

Di Indonesia saja, kata Bambang, berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak pada 2011, masih ada sekira 11,7 juta anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan. Ini terjadi karena mayoritas dari mereka berada di daerah-daerah pelosok atau terpencil.

"Anak yang tidak mempunyai akses pendidikan sudah harusnya menjadi prioritas pembangunan pendidikan. Oleh sebab itu, sebagai salah satu jalan keluar, dibutuhkan sebuah kerjasama dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, korporasi swasta maupun BUMN dan komunitas untuk bergerak memperbaiki kondisi yang memprihatinkan ini," imbuhnya.

Dia mengakui,n akses yang terbatas menjadi masalah utama bagi masyarakat di daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. Lokasi yang jauh dari perkotaan sehingga memerlukan waktu tempuh yang panjang menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan.

"Karena itu, kami menawarkan lima pola yang mungkin bisa dilakukan yakni sister school, satellite school, SMP terbuka, boarding school, dan perbaikan kualitas sekolah di daerah terpencil," ujarnya saat Diskusi Solusi Pendidikan di Daerah Terpencil.

Melalui sister school, kata dia, ada kerjasama yang dilakukan antara sekolah yang berada di daerah terpencil dengan sekolah yang berada di area perkotaan. Kerjasama ini hampir mirip dengan satelite school, hanya saja berbeda dalam pola kerjasamanya.

Adapun untuk sister school, ada guru dari sekolah di kota yang harus mengajar di daerah terpencil. Fasilitas akomodasi sebaiknya disediakan karena waktu mengajarnya hanya dalam periode tertentu. Sementara untuk satellite school, sekolah induk di daerah lain hanya bertindak sebagai pengawas terhadap keberlangsungan proses pendidikan di daerah terpencil tersebut.

Konsep SMP terbuka dan boarding school, tambahnya, sudah ada yang diaplikasikan selama ini hanya perlu untuk diaktifkan kembali. Adapun untuk perbaikan kualitas sekolah, imbuh Bambang, dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi sekolah yang sudah ada.

"Ini seperti yang kami lakukan di Purwakarta dengan menjembatani korporasi yang berniat memperbaiki salah satu sekolah di daerah tersebut," tutupnya. (ade) 

SUMBER : OKEZONE.COM

PENDIDIKAN : Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Indonesia?

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)
JAKARTA - Orangtua yang kritis terhadap dunia pendidikan di Indonesia pasti ingin mencari sekolah yang baik, agar mendapatkan pembelajaran yang baik dan berkualitas.

"Adanya implementasi kurikulum 2013, sistem pendidikan di Indonesia sama semua di setiap sekolah. Ada apa dengan sistem pendidikan di Indonesia yang mengharuskan guru sampai segitunya mencari sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya?" tanya Psikolog Pendidikan Anak Novita Tandry, kepadaOkezone, Kamis (28/11/2013).

Dia menambahkan, dari hasil penelitian pada sistem sekolah yang ada pada umumnya berpusat pada jasmani saja, bukan pada jasmani dan rohani (holistic). Kurangnya pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak dan psikologi perkembangan anak.

"Hasil penelitian pada sistem sekolah yang lain, yaitu berpusat pada kepentingan guru bukan murid, yang penting sudah mengajar tidak peduli murid mengerti atau tidak. Pertanyaan yang lazim di antara para guru dan kepala sekolah, seperti 'sudah sampai di mana ngajarnya? Wah aku mesti ngebut nih, waktunya sudah hampir habis'," ujar dia.

Kemudian, lanjutnya, hasil penelitian yang lain berpusat pada target materi atau kurikulum bukan dinamika kelas "yang penting target selesai", serta tidak peduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun.

"Berpusat pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ), bukan pada Multiple Intelligence atau kecerdasan unik tanpa batas. Pengakuan anak pandai yang sangat terbatas pada kemampuan Eksakta dan Verbal. Jadi, wajar bila dalam tiap kelas paling-paling cuma ada lima orang saja yang pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik," ucapnya.

Selain itu, kemampuan naluri mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar berdasarkan pelatihan. Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu diajar.

"Berpusat pada Lower Order Thinking, bukan Highly Order Thinking. Menghafal soal yang jawaban sudah ada atau dimiliki gurunya atau disebut juga sebagai Mechanical Intelligence," ungkapnya.

Selanjutnya, sistem pendidikan di Indonesia berpusat pada satu Model Tes, yaitu Verbal Test Model/Scholastic Aptitude Test, bukan berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata pelajaran (mapel) dan keunggulan spesifik anak. (ade) 

SUMBER : OKEZONE.COM

PENDIDIKAN : 2014, Pemerintah Anggarkan Dana Pendidikan Rp368 T

Ilustrasi. (Foto: okezone)
JAKARTA - Pemerintah menetapkan anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp368,899 triliun atau 20 persen dari total anggaran belanja negara. Adapun total anggaran belanja negara sebesar Rp1.842,495 triliun.

Penetapan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 14 November 2013 dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2014.

"Anggaran belanja pendidikan ini, terdiri atas anggaran pendidikan melalui belanja pemerintah pusat Rp130,279 triliun (tersebar di Kemdikbud Rp80,661 triliun, Kemenag Rp42,566 triliun, dan 16 Kementerian/Lembaga Rp7,051 triliun), anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah sebesar Rp238,619 triliun," demikian seperti dikutip dari laman Setkab, Selasa (3/12/2013).

Dalam anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah itu tercantum anggaran untuk Bagian Anggaran Pendidikan yang diperkirakan dalam Dana Bagi Hasil (DBH) Rp982,4822 miliar.

Kemudian Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan Rp10,041 triliun, Bagian Anggaran yang diperkirakan dalam Dana Alokasi Umum (DAU) Rp135,644 triliun, Dana Tambahan Penghasilan Gurus (DTPG) PNS Daerah Rp1,853 triliun.

Selanjutnya, tunjangan Profesi Guru Rp60,540 triliun, Bagian Anggaran dalam Otonomi Khusus Rp4,094 trilun, Dana Insentif Daerah (DID) Rp1,387 triliun, dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Rp24,074 triliun.

Sekadar diketahui, Anggaran Pendapatan Negara Tahun Anggaran 2014 adalah Rp1.667,140 triliun, sementara Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.842,495 triliun, atau defisit Rp175,355 triliun (1,69 persen). (ade)