Jakarta - Gelora Bung Karno serasa pecah. Di menit-menit terakhir Indonesia memperbesar keunggulannya atas Korea Selatan, dan untuk ketiga kalinya Evan Dimas mengoyak gawang tim lawan, tapi Korea cepat membalas pula.
Gol tersebut tercipta di menit 85, dari sebuah serangan balik yang cepat. Dari umpan silan Ilham Udin Armiyn, Evan dengan kaki kirinya melepaskan tembakan dari depan kotak penalti, dan bola meluncur untuk ketiga kalinya di gawang Korea.
Akan tetapi Korea membalas dengan cepat. Dua menit kemudian, dari sebuah free kick Sun Myun Won berhasil menaklukkan kiper Ravi Murdianto. Skor menjadi 3-2.
Sebelumnya Evan mencetak gol di menit 30 dan 49, juga dengan proses yang mirip. Korea membalas satu kali di babak pertama melalui tendangan penalti Seol Taesu di menit 31.
sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/10/12/200747/2385436/76/menegangkan-indonesia-3-korea-2?b99220170
Sabtu, 12 Oktober 2013
Jumat, 11 Oktober 2013
Kemampuan Matematika di Kelas Satu SD Menentukan Tingkat Keterampilan Matematika Selanjutnya
Analisis para peneliti menunjukkan bahwa, dengan rendahnya nilai ujian pengetahuan sistem bilangan di kelas satu SD, secara signifikan memperbesar resiko bagi siswa memperoleh nilai numerasi fungsional yang rendah di usia remaja.
Studi jangka panjang dari para peneliti di National Institute of Child Health and Human Development, menunjukkan bahwa anak-anak yang sebelumnya gagal meraih keterampilan matematika dasar di kelas pertamanya, akan mendapat nilai yang jauh di belakang para siswa lain untuk hasil ujian matematikanya di kelas tujuh. Ujian ini sekaligus menilai tingkat keterampilan matematika yang umumnya dibutuhkan orang dewasa dalam kehidupan sosialnya.
Dasar dari keterampilan matematika, yaitu ‘pengetahuan sistem bilangan‘, adalah kemampuan untuk menghubungkan suatu jumlah dengan simbol numerik yang mewakilinya, serta untuk memanipulasi jumlah dan melakukan penghitungan. Keterampilan ini merupakan dasar untuk semua kemampuan matematika lainnya, termasuk yang diperlukan orang dewasa sebagai anggota masyarakat, sebuah konsep yang disebut numerasi.
Para peneliti melaporkan bahwa upaya awal untuk membantu anak-anak mengatasi kesulitannya mempelajari pengetahuan sistem bilangan, secara signifikan bisa bermanfaat untuk jangka panjang. Dari data yang mereka peroleh, tercatat lebih dari 20 persen orang dewasa AS tidak memiliki keterampilan matematika kelas delapan yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Pengetahuan sistem bilangan adalah kemampuan untuk menghubungkan suatu jumlah dengan simbol numerik yang mewakilinya, serta untuk memanipulasi jumlah dan melakukan penghitungan. Sebagai contoh, 3 titik pada gambar di atas dapat diwakili dengan angka tiga dan 3 terdiri dari 2 dan 1 (Kredit: NIH/National Institute of Child Health and Human Development)
“Pemahaman sejak dini pada jumlah dan bilangan tampaknya menjadi fondasi bagi kita untuk membangun pemahaman yang lebih kompleks pada bilangan dan penghitungan,” kata Kathy Mann Koepke, Ph.D., direktur Ilmu Matematika dan Kognisi dan Belajar: Program Pengembangan dan Gangguan di National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), Eunice Kennedy Shriver, “Untuk mewujudkan prioritas nasional pada pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika, maka sangat penting bagi kita untuk memahami bagaimana anak-anak bisa menjadi terampil matematika, dan intervensi apa saja yang dapat membantu mereka dalam berjuang membangun keterampilan ini.”
Hasil penelitian ini merupakan bagian dari studi anak-anak jangka panjang dalam sistem sekolah di Columbia. Diawali dengan mengevaluasi kemampuan pengetahuan sistem bilangan pada para siswa kelas satu dari 12 Sekolah Dasar. Pengetahuan sistem bilangan ini terdiri dari beberapa prinsip inti:
- Bilangan yang mewakili besaran yang berbeda (lima lebih besar dari empat).
- Hubungan-hubungan bilangan yang tetap sama meski bilangan-bilangan itu bervariasi. Misalnya, perbedaan antara 1 dan 2 sama dengan perbedaan antara 30 dan 31.
- Kuantitas (misalnya, tiga bintang) dapat diwakili dengan simbol (angka 3).
- Bilangan yang dapat dipecah menjadi beberapa bagian (5 terdiri dari 2 dan 3 atau 1 dan 4).
Para peneliti juga mengevaluasi keterampilan kognitif seperti daya ingat, rentang waktu konsentasi, dankecerdasan umum.
Di tahun-tahun berikutnya, studi kembali difokuskan pada para siswa yang sama setelah mereka memasuki kelas tujuh. Dari hasil tes untuk tingkat kelas ini, ditemukan bahwa anak-anak yang memiliki nilai terendah untuk ujian pengetahuan sistem bilangan saat di kelas satu, memperoleh nilai yang tertinggal dari rekan-rekan mereka. Para peneliti mencatat bahwa perbedaan-perbedaan dalam hal numerasi di antara kedua kelompok ini tidak ada kaitannya dengan kecerdasan, kemampuan bahasaataupun metode yang digunakan untuk menyelesaikan soal hitungan.
Nilai yang rendah untuk hasil ujian pengetahuan sistem bilangan di kelas satu SD secara signifikan memperbesar risiko bagi siswa memperoleh nilai tes numerasi fungsional yang rendah di usia remaja. Dimulai dengan rendahnya pengetahuan sistem bilangan, maka menjadi indikasi yang menempatkan anak-anak sedemikian jauh di belakang, bahkan terlalu jauh bagi mereka untuk bisa mengejar ketertinggalan. Grafik di atas menampilkan keterampilan matematika berdasarkan kelas. (Kredit: NIH/National Institute of Child Health and Human Development)
Untuk pengujian di usia 13 tahun, 180 siswa ditugasi menyelesaikan soal tes dalam waktu yang terbatas, meliputi soal-soal penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian beberapa angka; soal-soal kata; serta perbandingan dan penghitungan dengan pecahan. Penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa tes ini bisa digunakan untuk mengevaluasi ‘numerasi fungsional’, yaitu keterampilan yang dibutuhkan orang dewasa untuk bisa masuk dan berhasil dalam dunia kerja. Misalnya pemahaman terbatas aljabar yang diperlukan untuk menentukan uang kembalian, mampu menjawab soal seperti: “Jika harga satu unit Rp. 1.400,- dan Anda menyerahkan Rp. 1.200,- pada kasir, ada seberapa perempat dan berapa banyak uang receh untuk kembalian?” Aspek lain dari numerasi fungsional juga termasuk kemampuan dalam memanipulasi pecahan, seperti saat menggandakan bahan dalam resep makanan (misalnya, menuangkan air dari wadah berisi 1½ gelas air ke dalam resep yang memerlukan ¾ gelas air), atau menentukan titik pusat dinding ketika ingin memasang lukisan atau rak tepat di tengah dinding.
Analisis para peneliti menunjukkan bahwa, dengan rendahnya nilai ujian pengetahuan sistem bilangan di kelas satu SD, secara signifikan memperbesar resiko bagi siswa memperoleh nilai numerasi fungsional yang rendah di usia remaja.
Para peneliti mengamati proses belajar dan menemukan bahwa anak-anak kelas pertama yang mendapat nilai terendah juga mengalami perkembangan yang paling lambat dalam hal pengetahuan sistem bilangan di sepanjang tahun sekolahnya. Dimulai dengan buruknya pengetahuan sistem bilangan, maka menjadi indikasi yang menempatkan anak-anak sedemikian jauh di belakang, bahkan terlalu jauh bagi mereka untuk bisa mengejar ketertinggalan.
“Temuan ini sangat berharga untuk menempatkan perhatian pada gagasan bahwa numerasi sejak dini dalam hidup berpengaruh besar tidak hanya bagi individu, namun juga bagi masyarakat di mana ia tinggal dan bekerja,” tutur Dr. Mann Koepke.
Kamis, 10 Oktober 2013
Indonesia Bekuk Filipina Dua Gol Tanpa Balas
Jakarta - Kemenangan kembali diraih Indonesia dalam laga kualifikasi Piala Asia U-19. Kali ini Indonesia menang 2-0 atas Filipina.
Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (10/10/2013) malam WIB, Indonesia membuka kemenangan melalui gol dari tendangan bebas M. Hargianto di menit ke-27.
Terus melancarkan serangan untuk membongkar rapatnya pertahanan Filipina, Indonesia baru bisa menambah keunggulan enam menit sebelum turun minum lewat gol pemain pengganti Yabes Malaifani.
Dengan hasil itu Evan Dimas cs mengoleksi 6 poin dari dua laga, setelah di pertandingan pertama lalu meraih kemenangan 4-0 atas Laos.
Di partai lain Grup G yang juga dilangsungkan hari ini, Korea Selatan menang telak 5-1 atas Laos. Ini juga membuat Korsel meraup 6 poin dari dua laga.
Hasil-hasil itu membuat Korsel dan Indonesia kini bersaing ketat berebut satu tiket langsung dari grup ini dengan poin setara--Korsel (+8) sementara unggul selisih gol dari Indonesia (+6). Kedua tim akan berhadapan di SUGBK, Sabtu (12/10).
Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (10/10/2013) malam WIB, Indonesia membuka kemenangan melalui gol dari tendangan bebas M. Hargianto di menit ke-27.
Terus melancarkan serangan untuk membongkar rapatnya pertahanan Filipina, Indonesia baru bisa menambah keunggulan enam menit sebelum turun minum lewat gol pemain pengganti Yabes Malaifani.
Dengan hasil itu Evan Dimas cs mengoleksi 6 poin dari dua laga, setelah di pertandingan pertama lalu meraih kemenangan 4-0 atas Laos.
Di partai lain Grup G yang juga dilangsungkan hari ini, Korea Selatan menang telak 5-1 atas Laos. Ini juga membuat Korsel meraup 6 poin dari dua laga.
Hasil-hasil itu membuat Korsel dan Indonesia kini bersaing ketat berebut satu tiket langsung dari grup ini dengan poin setara--Korsel (+8) sementara unggul selisih gol dari Indonesia (+6). Kedua tim akan berhadapan di SUGBK, Sabtu (12/10).
Ngapain Lagi Sih Ngurusin Mesir?
Oleh:
M. R. Aulia
6 Oktober 2013, Rakyat mesir kembali turun ke jalan. Isu mesir yang sempat meredup di kalangan banyak manusia dunia, rakyat Mesir tak mati langkah. Mereka kembali turun ke jalan, bersatu daya upaya untuk mengembalikan pemerintahan yang sah dari junta militer Mesir. Lapangan Tahrir Square kembali menjadi tempat konsentrasi perjuangan mereka. Meskipun beberapa waktu lalu, para pendukung Presiden Moursi dibubarkan paksa secara kejam dan sadis dengan tank.dan senjata yang mematikan. Ancaman tersebut tak surut membuat nyali mereka untuk menyuarakan pemerintahan yang sah, menjadi ciut dan luntur.
Kematian sadis bukan hanya sebuah ancaman bagi rakyat Mesir, akan tetapi sebuah fakta yang sangat jelas pernah mereka alami. Bagaimana tidak, ketika sedang melakukan aksi, teman, saudara, anak bahkan sesama peserta aksi tertembak dengan jelas sehingga banyak yang berguguran. Pemandangan tersebut bukanlah hal yang asing dan mengerikan bagi mereka. Lagi-lagi mereka kembali menyuarakan perjuangan dengan segala resiko terberat sekalipun dalam hidup mereka.
Pertanyaannya kenapa mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raga demi kembalinya presiden Moursi. Bisa jadi, Moursi tidak mengenal mereka. Bisa jadi Moursi belum pernah memberikan sesuatu secara langsung kepada masing-masing individu yang tergabung dalam lautan manusia pendukungnya sebagai presiden Mesir. Itu semua mengerucut kepada alasan bahwa Mursi terpilih secara demokratis. Belum genap satu tahun, Mursi dikudeta oleh menteri yang pernah diangkatnya sendiri beberapa waktu lalu.
Namun sangat disayangkan, para pro demokratis yang sering bercuap-cuap tak pernah muncul dan menyampaikan gagasan secara gamblang. Mereka hanya bisa diam seribu bahasa. Apalagi kaum pro demokratis yang berada di negeri Indonesia, beralasan tidak ingin mencampuri atau mengurusi urusan domestik rakyat Mesir. Kendati sudah dijelaskan dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Meskipun demikian, para pakar demokratis Indonesia tidak kompak dalam melantangkan suaranya kepada dunia Internasional. Jutaan rakyat Indonesia, hari ini, 6 Oktober 2013, turun ke jalan untuk meyuarakan perjuangan rakyat Mesir. Akan tetapi bentuk solidaritas yang dilakukan sebagian rakyat Indonesia ini, banyak mengundang cibiran, cemoohan dan lain sebagainya dari beberapa kalangan.
Berikut ilustrasi perdebatan antar rakyat Indonesia dalam menyikapi solidaritas sesama perindu perdamaian dunia.
“Mau ngapain situ ngurusin kondisi luar negeri seperti Mesir, Suriah, Palestina dan lain-lain? Kondisi dalam negeri aja belum beres?
Oh gitu ya?
“Terus situ ngapain ngefans sama ngurusin sepak bola luar negeri? Sepak bola dalam negeri aja belum beres.
“Ngapain juga ngurus artis luar negeri? Artis dalam negeri aja ga semuanya yang beres.”
“Ngapain juga belajar bahasa asing? Bahasa daerah aja ga semua ngerti.”
“Ngapain beli barang impor? Buatan dalam negeri aja banyak yang ga beli.”
“Ngapain jalan-jalan ke luar negeri? Tempat wisata lokal aja ga habis-habis dikunjungi?”
“Hayoooooo….?
Jawabannya ada dalam hati kecil masing-masing. Jujur atau tidak. Terserah saja.
Akhirnya selamat kepada relawan Indonesia yang mau merelakan hari istirahat (weekend) untuk berpanas-panas ria dalam menyuarakan bentuk solidaritas kemanusiaan. Tak hanya raga, pundi pundi emas pun rela dilepaskan demi tercapainya perdamaian dunia.
Kalau tidak sependapat dengan perjuangan mereka, berikan alasan rasional nan logis untuk berhenti melakukan aksi solidaritas tersebut?
SUMBER : http://muslimina.blogspot.com/2013/10/ngapain-lagi-sih-ngurusin-mesir.html
M. R. Aulia
6 Oktober 2013, Rakyat mesir kembali turun ke jalan. Isu mesir yang sempat meredup di kalangan banyak manusia dunia, rakyat Mesir tak mati langkah. Mereka kembali turun ke jalan, bersatu daya upaya untuk mengembalikan pemerintahan yang sah dari junta militer Mesir. Lapangan Tahrir Square kembali menjadi tempat konsentrasi perjuangan mereka. Meskipun beberapa waktu lalu, para pendukung Presiden Moursi dibubarkan paksa secara kejam dan sadis dengan tank.dan senjata yang mematikan. Ancaman tersebut tak surut membuat nyali mereka untuk menyuarakan pemerintahan yang sah, menjadi ciut dan luntur.
Kematian sadis bukan hanya sebuah ancaman bagi rakyat Mesir, akan tetapi sebuah fakta yang sangat jelas pernah mereka alami. Bagaimana tidak, ketika sedang melakukan aksi, teman, saudara, anak bahkan sesama peserta aksi tertembak dengan jelas sehingga banyak yang berguguran. Pemandangan tersebut bukanlah hal yang asing dan mengerikan bagi mereka. Lagi-lagi mereka kembali menyuarakan perjuangan dengan segala resiko terberat sekalipun dalam hidup mereka.
Pertanyaannya kenapa mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raga demi kembalinya presiden Moursi. Bisa jadi, Moursi tidak mengenal mereka. Bisa jadi Moursi belum pernah memberikan sesuatu secara langsung kepada masing-masing individu yang tergabung dalam lautan manusia pendukungnya sebagai presiden Mesir. Itu semua mengerucut kepada alasan bahwa Mursi terpilih secara demokratis. Belum genap satu tahun, Mursi dikudeta oleh menteri yang pernah diangkatnya sendiri beberapa waktu lalu.
Namun sangat disayangkan, para pro demokratis yang sering bercuap-cuap tak pernah muncul dan menyampaikan gagasan secara gamblang. Mereka hanya bisa diam seribu bahasa. Apalagi kaum pro demokratis yang berada di negeri Indonesia, beralasan tidak ingin mencampuri atau mengurusi urusan domestik rakyat Mesir. Kendati sudah dijelaskan dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Meskipun demikian, para pakar demokratis Indonesia tidak kompak dalam melantangkan suaranya kepada dunia Internasional. Jutaan rakyat Indonesia, hari ini, 6 Oktober 2013, turun ke jalan untuk meyuarakan perjuangan rakyat Mesir. Akan tetapi bentuk solidaritas yang dilakukan sebagian rakyat Indonesia ini, banyak mengundang cibiran, cemoohan dan lain sebagainya dari beberapa kalangan.
Berikut ilustrasi perdebatan antar rakyat Indonesia dalam menyikapi solidaritas sesama perindu perdamaian dunia.
“Mau ngapain situ ngurusin kondisi luar negeri seperti Mesir, Suriah, Palestina dan lain-lain? Kondisi dalam negeri aja belum beres?
Oh gitu ya?
“Terus situ ngapain ngefans sama ngurusin sepak bola luar negeri? Sepak bola dalam negeri aja belum beres.
“Ngapain juga ngurus artis luar negeri? Artis dalam negeri aja ga semuanya yang beres.”
“Ngapain juga belajar bahasa asing? Bahasa daerah aja ga semua ngerti.”
“Ngapain beli barang impor? Buatan dalam negeri aja banyak yang ga beli.”
“Ngapain jalan-jalan ke luar negeri? Tempat wisata lokal aja ga habis-habis dikunjungi?”
“Hayoooooo….?
Jawabannya ada dalam hati kecil masing-masing. Jujur atau tidak. Terserah saja.
Akhirnya selamat kepada relawan Indonesia yang mau merelakan hari istirahat (weekend) untuk berpanas-panas ria dalam menyuarakan bentuk solidaritas kemanusiaan. Tak hanya raga, pundi pundi emas pun rela dilepaskan demi tercapainya perdamaian dunia.
Kalau tidak sependapat dengan perjuangan mereka, berikan alasan rasional nan logis untuk berhenti melakukan aksi solidaritas tersebut?
SUMBER : http://muslimina.blogspot.com/2013/10/ngapain-lagi-sih-ngurusin-mesir.html
Langganan:
Postingan (Atom)